Selamat Datang Pembaca

Tentang Mimpi dan Berbagi
Tampilkan postingan dengan label perspektif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perspektif. Tampilkan semua postingan

22/03/12

Saling Bertumbuh dalam Kebersamaan

Sekedar ingin berbagi apa yang telah saya dapatkan, karena apalah yang bisa saya bagi selain pengetahuan dan pemahaman. Semoga apa yang terurai ini bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua.

Sahabat, kita hidup dalam tautan banyak interaksi. Sudah fitrah manusia menjadi makhluk sosial, makhluk yang senantiasa memerlukan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Bohong bila ada manusia yang bisa hidup sendiri. Sekuat apapun manusia itu, adakalanya ia merasa lelah melakukan semuanya sendiri. Pasti ada masanya seorang manusia membutuhkan sandaran, entah itu hanya sebagai tempat bercerita atau berbagi derita.

Dalam tautan interaksi itu, sudah tentu ada orang-orang yang membersamai kita, entah itu adalah sahabat, pasangan maupun ikatan persaudaraan.  Dalam kebersamaan itu tak bisa dipungkiri bahwa akan selalu ada asas kemanfaatan antara kedua belah pihak yang bersama. Memang, bukan hubungan untung rugi layaknya relasi bisnis dan sejenisnya. Akan tetapi Istilah untung rugi tersebut agaknya harus dipahami lebih luas, lebih dari sekedar penilaian materi.

Sahabat, tanpa disadari kita memang hidup dalam nuansa saling memanfaatkan. Sebuah hubungan dimana kedua belah pihak memperoleh manfaat dari kebersamaan yang terjalin. Bukan satu pihak memanfaatkan atau lebih ekstrimnya merugikan pihak lain. Dalam menjalani kebersamaan harus tercipta hubungan simbiosis mutualisme dimana kedua belah pihak merasa diuntungkan dengan memperoleh manfaat.

Dalam ikatan kebersamaan, kedua belah pihak harus mampu saling mengembangkan dan menumbuhkan. Katakanlah dalam ikatan persahabatan, adalah sebaiknya seorang sahabat memberikan nilai positif bagi sahabatnya yang lain, karena untuk apalah kita menjalin kebersamaan dengan orang yang malah menghancurkan kita. Begitupun, perlu direnungi apakah kebersamaan yang telah kita jalani ini memberikan manfaat untuk kita dan orang yang kita bersamai.

Sebagai seorang manusia, kita tumbuh dalam proses interaksi sosial masyarakat. Sehingga kita harus mampu memilah interaksi mana yang mampu mengembangkan potensi kita baik secara jasad maupun ruhiyah. Sebaik-baik kebersamaan adalah yang membawa kita pada kebenaran. Disinilah yang dimaksud makna tumbuh. Tumbuh yang tidak sekedar pengembangan akal dan pikiran namun dibarengi dengan keluhungan akhlak dan ketetapan iman.

Kebersamaan yang menciptakan hubungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan, kebersamaan yang menciptakan daya semangat dan ruang untuk terus mengembangkan potensi diri, seperti itulah kebersamaan yang saling menumbuhkan. Sekalipun kita tidak mampu memberikan ikan pada orang yang dibersamai kita, setidaknya kita bisa memberikan kailnya. Mungkin kita tidak dapat memberikan kesuksesan bagi hidup sahabat kita, tapi setidaknya kita turut membantu meretas jalan suksesnya, memberinya ruang dan kesempatan untuk membangun hidup suksesnya.

Sahabat, dalam ikatan apapun kebersamaan itu, pastikan selalu ada manfaat yang bisa diperoleh baik oleh kita maupun pihak kedua. Jangan biarkan waktu kebersamaan kita terbuang percuma tanpa memberikan dampak positif untuk pengembangan diri.
Pertanyaannya, sudahkah kita memberi manfaat untuk orang-orang yang membersamai kita, untuk orang tua kita, untuk sahabat kita. Sudahkah kita saling menumbuhkan dalam kebaikan?

Semoga kita semua menjadi orang yang bermanfaat dalam interaksi kebersamaan yang kita jalani, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain.

Sumber inspirasi : Tarbawi

14/02/12

Valentine, Kisahmu Dulu dan Kini

Bulan Februari selalu disebut-sebut sebagai bulan kasih sayang, dimana puncaknya setiap tanggal 14 diperingati sebagai hari untuk mengungkapkan perasaan kasih sayang kepada orang-orang tercinta. Gembar-gembor perayaan hari Valentine oleh media massa hingga instansi-instansi menyebabkan tradisi ini semakin marak di kalangan remaja. Hari Valentine selalu identik dengan pemberian greeting card bergambar hati yang terpanah oleh busur Cupid, bunga, coklat dan hal-hal istimewa untuk orang yang dicintai.

Dibalik perayaan Valentine’s Day, mungkin tak semua remaja tahu asal mula hari Valentine. Menurut berbagai sumber, hari Valentine merupakan sisa-sisa peninggalan kaum pagan pada masa Romawi kuno berupa upacara untuk penyembahan dan pemujaan terhadap dewa Leparcus (kesuburan) dan dewa Faunus (dewa alam semesta). Upacara tersebut dirayakan setiap tanggal 15 Februari yang diisi dengan berdansa bersama, bernyanyi dan diakhiri dengan perbuatan amoral.

Sejarahpun menyebutkan bahwa hari Valentine adalah untuk merayakan kematian seorang santo bernama Valentinus lantaran menikahkan sepasang kekasih yang dianggap menentang peraturan Raja Romawi saat itu. Santo Valentinus dihukum pancung tepat pada tanggal 14 Februari. Pada abad ke-5 upacara pemujaan tersebut ditetapkan sebagai hari valentine dan diperingati setiap tanggal 14 Februari.

Dewasa ini, momen Valentine menjadi salah satu perayaan yang dinanti-nanti oleh banyak kalangan termasuk remaja. Tak sedikit perayaan Valentine dijadikan ajang untuk berpesta pora bahkan melakukan seks bebas. Penjualan kartu Valentine dan cokelat dengan diselipi alat kontrasepsi seolah menjadi hal yang lumrah. Hal ini tentu meresahkan masyarakat dan kalangan remaja. Alih-alih menunjukkan perasaan kasih sayang malah berakhir dengan perusakan moral bangsa.

Teriakan menolak hari Valentine’s Day pun mengalir deras dari berbagai daerah. Di Bandung, aktivis HTI melakukan aksi penolakan hari Valentine setelah ditemukannya penjualan cokelat diselipi dengan kondom. Muhammadiyyah kabupaten Kendal pun menghimbau sekolah-sekolah untuk melarang para siswa melakukan hal-hal yang berbau Valentine. Di Bogor, Majelis Ulama Indonesia kota Bogor mengeluarkan fatwa haram merayakan hari Valentine termasuk mengirimkan sms berisi ucapan selamat.

Tak hanya itu, aksi penolakan pun dilakukan oleh Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus se-Bogor Selasa (14/02) yang berlangsung di Tugu Kujang. Aksi tersebut menolak perayaan Valentine’s Day yang berpotensi merusak generasi muda serta merupakan bentuk kepedulian para pelajar dan mahasiswa Islam kepada kaum muda yang saat ini banyak terjebak oleh budaya kaum Barat yang liberal. Bahkan aktivis Lembaga Dakwah Kampus Universitas Djuanda mengganti perayaan 14 Februari dengan Gerakan Menutup Aurat Internasional untuk menolak perayaan Valentine.

Mengungkapkan kasih sayang tidak cukup satu hari saja, apalagi jika diisi dengan hal-hal yang negatif, hanya akan merusak makna kasih sayang yang sebenarnya. Melakukan sebuah perayaan sangat berkaitan erat dengan keyakinan, sehingga perlu pemahaman yang lurus bagi kaum muda agar tak jadi generasi bercap ikut-ikutan, tanpa tahu makna.

30/12/11

Muslimah, Cantikmu Keindahan Islam

Tampil cantik selalu menjadi idaman semua wanita. Kulit putih yang mulus, busana yang up to date dan matching serta beragam sapuan di wajah seolah menjadi standarisasi untuk menyandang predikat cantik. Lagipula siapa wanita yang tak ingin disebut cantik? Toh sudah fitrah seorang wanita mencintai keindahan. Tak heran banyak cara dilakukan oleh banyak wanita untuk dapat meraih gelar tersebut. Berjam-jam menghabiskan waktu dan menguras dompet untuk perawatan di salon, hunting baju serta asesoris yang sedang in dan lama mematut diri di cermin karena sibuk menempel ornamen kosmetik di wajah. Begitulah, ternyata menjadi cantik penuh perjuangan dan menelan biaya besar. Fenomena tampil cantik ini semakin membanjir tak hanya milik kaum wanita secara umum, tetapi mulai mewabah di kalangan muslimah.
Trend berbusana muslimah yang modern saat ini tengah menjamur. Mungkin ini merupakan jalan alternatif dari statement bahwa menutup aurat itu kuno dan kampungan, sehingga bermunculan trend busana muslimah yang begini begitu, mulai dari model baju, mix and match warna serta model berjilbab. Sepintas mungkin hal itu menjadi angin segar bagi seorang muslimah yang ingin tampil gaya tapi tetap menjalankan kewajiban menutup aurat, hanya saja pertanyaannya syar’ikah trend berbusana tersebut? Kalau diperhatikan, berbusana muslimah saat ini telah mengalami pergeseran maksud, yang awalnya untuk menutup aurat, sebagian malah berubah dengan ‘tertutup tapi masih tampak’ dan hanya mengedepankan trend.
Tak ada yang salah untuk tampil cantik, modis dan matching, Allah pun sangat menyukai keindahan dan keserasian, hanya saja perlu dipahami kembali bahwa berbusana bagi seorang muslimah adalah untuk menutup aurat. Bahkan tidak hanya sekedar menutup aurat, tetapi menutup aurat sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan Allah SWT.
Artinya: Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-sitri kaum mukmin, “hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka,”. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Al Ahzab ayat 59 menerangkan mengenai perintah menutup aurat kepada seluruh wanita muslim dengan menggunakan jilbabnya. Dalam ayat ini Jilbab yang dimaksud adalah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, wajah dan dada. Bukan hanya sekedar menutupi tapi masih transparan, bukan menutupi tapi masih tampak garis lekuk  tubuhnya. Islam sudah sangat jelas memaparkan ketentuan berbusana bagi seorang muslimah, tidak menunjukkan lekuk tubuh, tidak transparan, tidak berwarna yang mencolok dan tidak berlebihan dalam menggunakan perhiasan.
Seorang muslimah tak perlu menjadi fashionista, berpenampilan sesuai perkembangan mode dan memakai kosmetik berlebihan. Toh pada dasarnya setiap wanita terlahir dengan keindahan. Setiap wanita adalah cantik. Hanya saja seringkali wanita buta dengan keindahannya sendiri karena persepsi cantik yang terbangun dikalangan sosial pada umumnya bersifat semu sehingga menyebabkan banyak para wanita terjebak. Sepanjang kehidupan ini, cantik selalu terdefinisikan berbeda setiap masanya, tak pernah ada aturan baku untuk mengkategorikan kecantikan seorang wanita. Bentuk tubuh yang ideal serta busana yang modis mungkin menjadi acuan untuk tampil cantik saat ini, tapi tak pernah ada suara bulat untuk mengiyakan hal tersebut.
Akan sangat lelah rasanya mengejar hal-hal yang tak pasti seperti itu. Lagipula segala hal yang bersifat fisik akan pudar dimakan usia. Tubuh yang ideal juga akan menua dan kehilangan kekuatan seiring dengan berjalannya waktu, wajah yang ayu nan segarpun akan mengeriput seiring bertambah udzurnya diri. Lantas bila sudah demikian masihkah wanita dikatakan cantik? Cantik hakikatnya tidak hanya mengejar keindahan fisik. Kehidupan ini selalu meminta keseimbangan, termasuk dalam hal kecantikan. Tak hanya berasal dari penampilan dan wajah yang indah, kecantikanpun perlu didukung keindahan batin atau dikenal pula dengan istilah inner beauty.
Inner beauty sering diartikan kecantikan  jiwa seorang wanita. Keluhungan budi, perkataan yang santun, kedalaman wawasan serta penampilan yang sopan sesuai syariatNya adalah modal cantik yang hakiki. Modal tersebut adalah buah dari ketaqwaan kepada Allah SWT. Ketaqwaan seorang muslimah akan memancarkan kecantikan pada wajahnya. Meski penampilannya tampak sederhana tetapi ada sesuatu yang berkilau, apalagi dengan jilbab yang menjulur menutup dada tampak sangat meneduhkan. Sikap optimistis, berpikir positif, saling menyayangi dan percaya diri adalah pupuk penyubur kecantikan bagi seorang muslimah. Ketaqwaan adalah sebaik-baik perhiasan seorang muslimah. Maka berbahagialah wahai muslimah, engkau sejatinya wanita yang cantik.
Tapi jangan pula inner beauty dijadikan alasan bagi seorang muslimah sehingga mengabaikan kebutuhan fisiknya. Berdalih atas nama inner beauty, seorang muslimah malah terkesan cuek dengan penampilannya, tidak memperhatikan kebersihan fisik, menebar wangi yang mencemari udara sekitar, berbusana tabrak warna dan tabrak motif sampai diteriaki crime fashion oleh orang lain. Bagaimanapun, penampilan memang bukan yang utama tapi memiliki peran sentral dalam mempengaruhi penerimaan orang lain terhadap seorang muslimah. Berpenampilan yang baik bagi seorang muslimah lebih dari sekedar kebutuhan. Ada identitas Islam yang dibawa olehnya untuk disebarkan kepada orang lain dan seluruh dunia.
Kecantikan seorang muslimah tidak sebatas wajah yang cantik, penampilan yang trendi dan asesoris yang bagus. Lebih dari itu kecantikan seorang muslimah adalah pencitraan Islam. Apalah artinya akhlak yang bagus bila penampilan amburadul? Sebaliknya tak akan berarti kecantikan fisik tanpa akhlak yang luhung. Bagaimanapun tampilan luar akan mempengaruhi pandangan pertama orang lain terhadap seorang muslimah. Setiap muslimah mengemban citra Islam. Bagaimana pandangan mata dunia menilai Islam berawal dari apa yang ditampakkan oleh seorang muslimah.
Penampilan adalah salah satu jalan dakwah seorang muslimah. Melalui penampilanlah seorang muslimah bisa mengenalkan betapa Islam adalah diin yang bersahabat dan cinta damai, sangat bersahaja dan menyenangkan. Alangkah Islam sangat mencintai keindahan dan kerapihan. Apa penilaian dunia terhadapa Islam bila muslimahnya sendiri tak menjaga penampilan fisik dan akhlaknya? Kecantikan adalah nuansa keindahan fisik yang terbingkai oleh keluhungan akhlak. Begitulah Islam mendefinisikan makna kecantikan. Maka, para muslimah, tunjukkanlah pesona kita. Buat semua mata terpana dengan keindahan Islam. 

15/12/11

Gadget Bikin Anti Sosial

Tak dapat dipungkiri saat ini arus teknologi informasi sudah semakin pesat. Beragam gagdet canggih dengan beragam fitur untuk memudahkan pengguna bermunculan di pasaran. Saya sih sebenarnya gak bisa menyebutkan satu per satu gagdet-gagdet itu, mengapa? Karena saya bukan gagdetmania dan kurang up date masalah-masalah begituan. Tapi contoh sederhananya aja, adanya handphone dengan spesifikasi yang simple sampai yang canggih yang kadang bikin saya bingung makenya, sampe tablet PC yang kini lagi digandrungi  masyarakat.
Gagdet bagi kehidupan seseorang sepertinya tak dapat dipisahkan lagi. Selain sebagai alat komunikasi dan informasi, gagdet juga biasanya berperan sebagai media hiburan. Tapi jangan salah, ketergantungan menggunakan gagdet bisa bikin anti sosial. Masa sih? Untuk menganalisanya mudah aja. Di ruang-ruang publik, salahsatunya yang paling sering dijumpai adalah di angkutan umum. Penumpang akan dengan begitu saja memasang headset ditelinganya dan memutar ratusan lagu yang ada di handphone, bikin status di facebook dan bertukar commnet atau chating lewat BlackBerry Messangger dibanding untuk memperhatikan keadaan sekitar. Bahkan sampai tak sadar ada penumpang lain yang membutuhkan ruang untuk memposisikan dirinya.
Gagdetmania seperti mempunyai dunianya masing-masing. Lebih senang berinteraksi dengan orang diluar pandangan matanya. Benar bila ada ungkapan, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Contoh dalam sebuah keluarga yang merupakan unit sosial terkecil. Si ayah sibuk dengan laptopnya, Ibu dan kakak asik berchating ria di masing-masing BBnya, sedangkan si kecil adik berselancar game online di komputer. Sangat menyedihkan bila kita akhirnya harus kehilangan hangatnya kebersamaan karena sibuk ngurusin blog atau ngetweet ini itu. (hee, bongkar aib sendiri) J
Gagdet yang kita punya seyogyanya digunakan secara bijak. Jangan sampai lupa berpijak ke dunia nyata karena tanpa sadar kita terperangkap temali sebagai budak gagdet.

Tontonan Anak Tidak Mendidik, Apa Jadinya?




Apa yang anda bayangkan bila melihat foto di atas? Saya memperoleh foto tersebut dari salah seorang teman di Studenta Jurnal Bogor. Pertama kali melihat foto itu, yang tercetak dalam benak saya adalah ke-tak habis pikir-an. Praktisnya, saya saja tidak akan betah berada dalam situasi tersebut, tapi mengapa wajah polos-polos itu tampak baik-baik saja menikmati hingar bingar dan dandanan seronok dari biduan dangdut tersebut? Meski sebagian tampak acuh tak acuh, tapi cobalah amati sekali lagi bahwa anak-anak yang berdiri dibagian depan tampak terpaku pada apa yang dilihatnya di atas panggung.
Gaya seronok artis dangdut tersebut jelas bukan untuk konsumsi seorang anak. Generasi sebobrok apa lagi yang akan lahir bila seorang anak dicekoki hal-hal semacam itu? Kondisi demikian hanya akan merusak moral si anak dan disadari atau tidak perkembangan psikologis seorang anak akan terganggu.
Membangun pribadi dan karakter seorang anak bukan hanya tanggung jawab lembaga pendidikan dan guru. Jauh dari itu semua, pendidikan pembentukan karakter seorang anak harus terintegrasi pada setiap sisi kehidupan. Peran orang tua jelas menjadi faktor utama namun lingkungan jauh lebih berpengaruh pada diri seorang anak. Seorang anak akan dengan mudah menyerap segala informasi dari lingkungan sekitarnya, tanpa proteksi pihak orangtua atau orang dewasa, maka akses informasi tersebut akan kebablasan.
Saat ini ketika perkembangan teknologi dan informasi semakin pesat, anak-anak akan dengan mudah mengakses segala jenis informasi termasuk dengan berselancar di dunia maya. Internet, pada kasus ini seperti dua sisi mata uang logam. Internet bisa berperan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi, namun tanpa filter internet akan menjadi boomerang ketika yang diakses adalah situs-situs porno dan mengandung unsur negatif bagi perkembangan si anak.
Kemudahan akses informasi tersebutpun adakalanya didukung oleh pengadaan fasilitas dari orang tua. Awalnya mungkin orang tua bermaksud untuk memenuhi kebutuhan sang anak. Hanya saja, orang tua tak bisa begitu saja lepas tangan dalam penggunaan fasilitas tersebut. Arus teknologi informasi yang menghantam kehidupan masyarakat memang tak bisa dibendung, sehingga PR orang tua yaitu memberikan pemahaman pada si anak untuk memilah apa yang layak dan tidak untuk dikonsumsi.
Acapkali kita mendengar bahwa terjadi pelecehan seksual baik itu si anak menjadi pelaku atau korban karena anak-anak dan masyarakat umum keranjingan hal-hal berbau porno.  Komisi Perlindungan Anakpun mencatat bahwa kasus pelecehan pada anak semakin menunjukkan grafik ke atas.
Kasus seperti foto di atas dan serta penggunaan internet yang kebablasan hanya sebagian kecil yang akan merusak moral anak. Bila kita perhatikan, sinetron yang tayang di stasiun televisipun kebanyakan menawarkan cerita yang tidak mendidik. Alur cerita sinetron saat ini sangat mudah ditebak. Kisah percintaan, saling berebut kekasih dan harta sampai tindak kekerasan yang kadang sangat berlebihan. Saking berlebihannya, sering terpikir oleh saya, sebejat itukah moral masyarakat kita?
Menurut pemahaman saya, sinetron adalah sebuah cerita yang yang diadopsi kisah sehari-hari kehidupan masyarakat. Bila yang dipertontonkan hanya cinta, kekasih dan harta, serta kekerasan maka bisa jadi masyarakat kita memang sepicisan dan sesadis itu.
Kurangnya program-program televisi untuk anak menyebabkan mau tidak mau si anak akhirnya mengkonsumsi sinetron tersebut. Kalaupun ada cerita bertema anak-anak, kadang dibubuhi oleh hal-hal yang tidak realistis. Hal tersebut tidak hanya akan mempengaruhi daya pikir anak, bukan tidak mungkin berpengaruh luas pada kehidupan masyarakat.
Kita semua mempunyai tanggung jawab untuk mencetak generasi bangsa yang lebih baik dari waktu ke waktu. Bila dari apa yang dilihat si anak saja sudah seperti itu, generasi macam apa yang kita harapkan. Please, jangan rusak kepolosan wajah anak bangsa ini dengan menyajikan tontonan yang tak sesuai dengan umur mereka. 

26/11/11

Juara Tanpa Mahkota Sepakbola

Kejuaraan SEA GAMES (South East Asian Games) baru saja berlalu dari pandangan mata kita. Ada banyak kisah yang terurai selama perhelatan akbar negara-negara Asia Tenggara tersebut, menang-kalah serta suka-duka menyelimuti sebelas negara yang bertanding selama 12 hari (11-22/11) di dua kota besar Indonesia, Jakarta dan Palembang. Indonesia, sebagai tuan rumah, tak hanya sukses menggelar event besar tersebut, tetapi juga berhasil menjadi juara umum dengan mengoleksi lebih dari 180 emas dari 43 cabang olahraga yang dipertandingkan. Sebuah prestasi yang cukup membanggakan mengingat selama bertahun-tahun masa penantian itu, akhirnya gelar juara umum itu kembali diraih oleh kontinen Indonesia.
Menelisik masa-masa sebelum penyelenggaran SEA GAMES ada banyak kendala mengenai Indonesia yang didaulat menjadi tuan rumah. Mulai dari isu penggelapan uang wisma atlet di Palembang hingga kesiapan Indonesia sendiri sebagai panitia tuan rumah, dimana pembangunan sarana olahraga berjalan lamban dan molor dari jadwal yang telah ditentukan. Kendala tersebut menimbulkan beragam reaksi dari banyak pihak termasuk masyarakat umum, banyak yang menyangsikan bahwa pembangunan sarana olaharaga bisa selesai tepat waktu. Namun, akhirnya kita dapat berlega hati karena sarana pertandinganpun selesai dan dapat dipergunakan dengan selayaknya.
Setelah diburu waktu saat pembangunan sarana pertandingan, selama 12 hari kejuaraan SEA GAMES, kontingen Indonesia menunjukkan performance yang luar biasa dalam setiap cabang olahraga yang diperlombakan. Begitupun supporter Indonesia tak habis-habisnya mendukung para atlet untuk dapat memberikan kemenangan atas nama Indonesia. Baik di Jakarta dan Palembang, gaung teriakkan “Indonesia Bisa” membahana di setiap tempat pertandingan dan terbukti, Indonesia memang bisa mendulang banyak emas dan menjuarai juara umum. Sayangnya, gelar juara umum itu menjad kurang lengkap tanpa sumbangan emas dari cabang olahraga sepakbola.
Sepakbola, ya cabang olahraga dengan supporter terbesar, terbanyak dan mungkin terfanatik. Sepak bola, cabang olahraga yang diminati oleh hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia, belum berhasil menyabet medali emas pada turnamen SEA GAMES kali ini. Timnas U-23 dipaksa tunduk oleh timnas malaysia melalui drama adu penalti setelah melewati waktu pertandingan dengan segenap perjuangan dan semangat membara. Ya, lagi-lagi Indonesia harus mengalah terhadap negara satu rumpun yang memang tak pernah ‘akur’ itu . Indonesia dan Malaysia selalu menjadi musuh bebuyutan dan berhadapan dalam turnamen sepakbola. Setelah beberapa waktu yang lalu timnas Indonesia harus kalah dari Malaysia di ajang piala AFF, cakar garuda mudapun belum berhasil melumpuhkan sepak terjang harimau himalaya.
Pelatih Indonesia, Rachmad Darmawanpun membeberkan alasan kekalahan anak asuhnya usai pertandingan melalui press conference. Banyak memang yang dijelaskan, termasuk masalah stamina pemain dan kesiapan dalam menghadapi drama adu penalti. Kekalahan Indonesia memang meminbulkan luka yang mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia. Rasa kecewa bercampur haru menggantung di langit Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin malam (21/11). Tetapi terlepas dari medali apakah yang diperoleh oleh Indonesia, timnas U-23 telah menunjukkan permainan yang sangat cantik dan menawan. Mungkin, sekarang dewi fortuna memang belum singgah pada Indonesia. Satu hal penting yang harus dicatat adalah sebagai masyarakat Indonesia, jangan pernah berhenti untuk selalu mendukung timnas, karena sejatinya itulah kemenangan yang sebenarnya.
Api obor SEA GAMES memang telah ditiup padam. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil. Gelar juara umum tak seharusnya membuat Indonesia menjadi berbangga hati dan besar kepala. Selama 12 hari perhelatan akbar itu, PR besar Indonesia adalah selalu dan terus memaksimalkan potensi dan kemampuan para atlet. Bukan hanya larut dalam euforia yang semarak dan janji bonus yang melimpah, tetapi juga pembinaan dan peningkatan potensi dan kualitas atlet serta pengadaan sarana dan prasarana agar atlet Indonesia semakin juara, tak hanya di kawasan Asia Tenggara tetapi juga lintas benua. Akhir kata, Congrats for Indonesia..! I love u.. J