Ketika pertemuan menyisakan harapan
Bagaimanakah rasa jatuh cinta? Apakah serasa waktu berjalan lamban dan syahdu? Senyum selalu tergurat manis dalam seraut wajah meski tanpa alasan yang pasti. Angin semilir berhembus tenang dan cahaya matahari serasa lembut membelai menghangatkan pipi yang kemerahan. Begitukah rasanya dijatuhi cinta? Yah, memang sepertinya demikian. Selalu ada aroma bahagia dalam setiap langkah orang yang tengah jatuh cinta. Begitu pula yang tengah dirasakan Madu. Ada bayangan seseorang di pelupuk matanya, tanpa sadar ia telah menggores sebuah nama di hatinya. Nama yang ia janjikan pada dirinya sendiri tak akan pernah melupakannya.
Forum kepenulisan yang diselenggarakan di kotanya beberapa minggu lalu membawa Madu pada sebuah pertemuan dengan Arian, seorang laki-laki santun dengan kemahiran menulis yang tak bisa diragukan lagi, seorang ketua dari organisasi penulis yang tumbuh di kota kelahiran Madu. Pertemuan yang akhirnya menyisakan rasa kagum pada diri Madu terhadap sosok laki-laki tersebut.
Madu sadar pasti bahwa perasaannya ini tak layak tumbuh. Bukan karena mereka berdua tidak saling mengenal. Lebih dari itu, perasaan ini memang belum punya hak bertumbuh di hatinya. Usai pertemuan itu, Madu hanya bisa berharap bahwa pertemuan itu tak hanya menjadi yang pertama dan terakhir. Madu memupuk harapan bahwa akan ada pertemuan kedua dimana perasaannya sudah layak tumbuh dan berkembang.
Sayang, harapan itu memang tak layak bertumbuh. Sebuah kenyataan memangkas habis harapan Madu. Sosok harapan itu telah memilih di dunianya dan ia tak punya tempat disana.
Selamat Datang Pembaca
Tentang Mimpi dan Berbagi
Tampilkan postingan dengan label fiktif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiktif. Tampilkan semua postingan
26/03/12
14/02/12
Menjaga hati
Assalamu’alaikum, siang Da?
Sebuah pesan tertera di layar ponsel Andara. Gadis itu menghela nafas lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil yang diselempangkannya, tak berniat untuk membalas pesan tersebut. Mata gadis itu masih terus memperhatikan jalan. Saat ini Andara tengah menaiki bus bersama salah seorang temannya. Tak berapa ponselnya berdering, orang yang mengirimkan sms tadi kali ini mencoba meneleponnya. Sejenak Andara terpaku sambil menatap ponselnya, bimbang antara harus mendiamkannya atau malah langsung me-rejectnya.
“Kok gak diangkat, Da?” temannya Sarah bertanya.
Andara menoleh, “Oh, euh..gak penting dijawab.”
“Loh, dari siapa emang?”
Andara hanya mengangkat bahunya, tak berpikir panjang jarinya langsung menekan tombol reject. Mungkin harus ditegaskan, pikir Andara.
“Dia akhir-akhir ini datang lagi..” ucap pelan Andara seolah hanya mengatakan itu pada dirinya sendiri. Sarah menoleh, mata Andara masih tertuju pada jalanan yang mereka lewati.
“Siapa?”
Andara bergeming, merasa tak perlu untuk mengatakan perihal itu.
Sarah tersenyum, mengerti meski temannya itu tak menjawab pertanyaannya. Sarah menepuk pundak Andara. “Tegaskan saja!” tutur Sarah.
Andara menoleh, menarik bibirnya untuk tersenyum.
Aku tak mungkin kembali membuka komunikasi dengannya. Susah payah aku menghindar. Susah payah aku menata hati. Percaya bahwa cinta akan datang pada wakunya, tak perlu ada embel-embel pdkt bahkan pacaran. Jangan terjebak lagi, dia hanya masa lalu, batin Andara.
“Da boleh pinjem hpnya bentar gak?” tanya Sarah kemudian.
Andara menyodorkan ponselnya.
“Katanya mau jaga hati, kok foto Yoo Ah In masih jadi wallpaper sih?!!” protes Sarah sambil menjawil pipi Andara.
“Aa...ah sakit tahu!! Kan setahap demi setahap. Toh, Oppa jauh! Kebayang dia juga enggak..” timpal Andara sambil terkekeh merebut kembali ponselnya.
“Uhh..dasar!!” dengus Sarah.
Andara hanya tersenyum sambil kembali menatap mobil-mobil yang berseliweran dari balik kaca bus. Pandangannya teralih ke layar ponsel, foto salah satu bintang Korea bercokol manis jadi wallpaper di ponselnya.
Oppa, maaf ya! Terpaksa aku hapus fotomu, gumam Andara sambil mengganti wallpaper ponselnya dengan manga karakter Moon Jae Shin.
Gubrakkkss!!!!
Perubahan itu gak harus kilat. Setahap demi setahap asalkan istiqomah!
27/12/11
Jam Tangan Untuk Bunda
Berulang kali ku pandangi jam tangan yang masih rapi terbungkus plastik di genggaman tanganku. Sebuah jam tangan berukuran kecil berwarna putih dengan tali terbuat dari logam. Kemarin sore aku membeli jam tangan itu. Rencananya aku ingin memberikan jam tangan itu sebagai hadiah untuk Ibu di hari Ibu hari ini, Tetapi sampai menjelang sore jam tangan itu belum juga berpindah tangan bahkan aku malah mengurung diri di kamar sambil terus memperhatikan jam tangan mungil itu.
Aku ragu-ragu, berkali-kali aku merutuki diriku sendiri. Bodoh, pikirku berkali-kali. Perasaanku tak karuan saat tahu aku akan memberikan hadiah pada Ibu. Aku bukan tipikal orang yang romantis. Aku jarang memberi hadiah pada siapapun, tapi bukan berarti aku pelit. Aku merasa aneh pada diriku sendiri karena hal-hal yang semacam ini jarang sekali aku lakukan. Mengapa aku menjadi sangat romantis pada Ibu? Aku jadi membayangkan apa yang harus ku katakan pada Ibu saat aku memberikan jam tangan ini, bagaimana reaksi Ibu atas sikapku yang tiba-tiba mendadak aneh ini. Membayangkan semua itu malah membuat aku mulas.
Aku memang anak yang tertutup, jarang sekali mengungkapkan perasaan dan kata-kata sayang bahkan pada kedua orang tuaku sendiri. Bibirku selalu kelu untuk sekedar mengatakan Ibu aku mencintaimu, tanganku terlalu kaku untuk merangkul dan memeluk kedua orang tuaku, aku terlalu malu untuk mengecup kening kedua orang tuaku. Sebuah hal yang bagiku tampak kekanak-kanakan. Sampai aku duduk di bangku kelas dua SMA sekarang, aku semakin meyakini hal tersebut.
Terdengar ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Buru-buru ku sembunyikan jam tangan itu di balik bantal. Sebuah wajah teduh muncul di balik pintu kamarku.
“Putri Ibu yang cantik lagi apa?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Ibu, “lagi ngerem bu di kamar, siapa tahu bertelor emas,” jawabku asal.
Ibu balik tersenyum dan menghampiriku. Kedua tangannya tersembunyi di balik badan seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Ibu duduk di sampingku, lalu tangannya menyodorkan sebuah bungkusan plastik berwarna biru, “Ini buat Risma.” Kata Ibu.
Aku tertegun, perasaanku semakin campur aduk. Malu dan merasa didahului. Aku meraih bungkusan plastik tersebut tanpa sepatah kata.
“Kemarin temen Ibu bawa rok bagus-bagus, jadi inget kalo rok Risma udah pada jelek,” jelas Ibu.
Aku makin terharu, kembali disadarkan bahwa Ibu selalu berusaha memenuhi kebutuhanku meski aku sama sekali tak meminta. Kepalaku tertunduk, pipiku memanas.
“Risma gak suka modelnya?” tanya Ibu.
Aku menggeleng, seketika tanganku meraih sesuatu yang ku sembunyikan dibalik bantal.
“Ini buat Ibu,” jawabku pelan menyodorkan jam tangan itu.
Dari sudut mata, aku melihat Ibu mengerutkan kening lalu mengembangkan seulas senyum.“Kok pake beliin jam tangan segala buat Ibu?”
“Kan hari Ibu, Ris pengen ngasih sama Ibu. Bukannya jam tangan Ibu udah rusak ya?”
Ibu meletakkan kedua tangannya di pipiku, “putri Ibu, makasih ya..” ucapnya seraya mengecup kedua belah pipiku.
Entah mengapa tiba-tiba aku merasa sangat bahagia. Senyum Ibu, ungkapan Ibu terasa lain saat ini, jauh lebih membahagiakan dan menenangkan. Aku tak mengira bahwa perasaannya akan sebahagia ini bila melihat wajah seorang Ibu menggurat senang oleh tindakan anaknya.
“Ibu udah masak makanan kesukaan kamu, makan yuk?” tanya Ibu kemudian.
Aku mengangguk, “iya, nanti Ris makan. Sekarang ngerjain tugas dulu, tanggung,”jawabku.
“Yaudah, makasih ya cantik. Padahal kalo Risma punya uang beliin aja keperluan Risma, gak usah repot-repot beliin Ibu. Risma kan belum kerja..” sahut Ibu kemudian berlalu di balik pintu.
Aku sama sekali tak punya sanggahan karena yang aku inginkan aku bisa memberikan kado pertamaku untuk Ibu. Di dalam hati, aku merasa ketagihan. Ketagihan melihat wajah sumringah Ibu, ketagihan melihat senyum Ibu, ketagihan mendapatkan cinta kasih dan pujiannya. Sesal rasanya mengapa tak sejak dulu saja aku memberi hadiah pada Ibu. Bahagia rasanya melihat Ibu tersenyum bahagia. Jauh lebih membahagiakan dari seluruh kesenangan di dunia ini.
Ibu, pokoknya aku akan selalu ngasih hadiah ke Ibu, karena aku baru sadar kebahagiaanku sesungguhnya adalah melihatmu tersenyum, gumamku lalu kembali pada deretan tugas di buku sekolahku.
The End.
08/11/11
Karena Air Tak Pernah Merasa Kehilangan
Pagi itu, mentari tak menampakkan sinarnya. Sejak dinihari hujan telah mengguyur bumi, melenakan manusia untuk tetap terjaga dalam mimpinya dari balik selimut. Seorang gadis duduk termangu dari balik jendela kamarnya, menatap derasnya sang hujan dengan perasaan kosong. Sesekali tetes-tetes air jatuh menerpa kaca kamar karena hujan disertai angin yang cukup kencang. Sigap ia segera menempelkan telunjuk pada tetes air tersebut. Perlahan jarinya mengikuti gerak tetes air, lamban, sampai perjalanan air itu akhirnya membentur sisian kayu jendela.
Samar-samar gadis tersebut mendengar suara seorang wanita memanggilnya dari balik pintu. Sekilas ia menatap pintu kamarnya yang tidak membuka sejak kemarin siang. Ada perasaan takut yang menjalari gadis tersebut bila ia memutar kenop pintunya. Dia tak akan berani menerima apapun yang terjadi di balik pintu itu. Di luar sana, ada banyak hal yang berubah dan ia tak punya cukup kekuatan untuk menghadapinya. Gadis itu kembali mengalihkan pandangannya ke jendela, tetapi suara dibalik pintu itu belum juga hilang. Malah semakin mengeras diikuti ketukan bertubi.
“Tira..! Tira..buka pintunya sayang! Kamu harus makan, seharian kemarin kamu mengurung diri di kamar, Ibu khawatir! Kita sarapan, Ibu udah buatkan nasi goreng kesukaan kamu. Setelah itu, Ibu antar kamu ke sekolah sebelum berangkat ke kantor. Ok?”
Tira tak sepenuhnya mendengar perkataan Ibunya, tapi telinganya menangkap jelas suara Ibunya parau menahan emosi dan tangis.
“Tira..sejak kapan kamu gak dengar perkataan Ibu? Kamu mau Ibu berdiri terus di sini, begitu? Baiklah Ibu tunggu sampai kamu mau buka pintu..!” teriak Ibunya lagi.
Tira menoleh, kembali menatap pintu kamarnya, lama. Jangan lakukan hal yang bodoh, Bu, gumam Tira dalam hati. Hening.
“Tira..” panggil Ibu kembali. Tira mendesah, ia beringsut dari tempatnya duduk. Berjalan perlahan. Dari balik pintunya, Tira belum berniat memegang handle pintu kamarnya.
“Tira gak ingin keluar..! Pergilah kerja, setelah itu urus perceraianmu dengan laki-laki itu..” ujar Tira datar tanpa emosi.
Ibu terkesiap mendengar perkataan Tira, “sejak kapan kamu memanggil kedua orang tuamu dengan panggilan asing seperti itu?”tanya Ibu.
“Tapi orangtua tak pernah mengabaikan perasaan anaknya..” bantah Tira dengan suara bergetar.
“Ibu mohon sayang, buka pintunya! Kamu sudah cukup besar untuk belajar berlapang dada menerima semua keputusan orang-orang yang kamu sayangi..!” pinta sang Ibu.
Satu tetes bening tiba-tiba mengalir di pipi Tira mendengar perkataan Ibunya, tangannya cepat mengusap. Namun, satu tetes kembali menitik, Tira kembali mengusap. Lagi jatuh, kini semakin deras dan Tira tak mampu lagi mengusapnya. Tira akhirnya memutar kenop pintunya, ia tak bisa lagi bertahan. Dilihatnya sang ibu yang terduduk lesu. Tak lama Ibu bangkit menatap anak gadisnya satu-satunya.
“Tapi Tira gak pernah merasa belajar untuk kehilangan..!” ujar Tira dengan tangis menjadi-jadi. Seketika Ibu langsung mendekap Tira erat. Tak kuasa Ibu menahan tangisannya.
“Maafkan Ibu sayang..!” bisiknya tepat di telinga Tira.
Pukul 15.00 bel tanda pulang bergema ke setiap sudut SMP Nusa Pertiwi. Pak Ginting mengakhiri pelajaran biologi dengan setumpuk tugas. Setelah berdo’a dan menggucap salam, para siswa pun berhamburan pulang. Tira merapikan buku pelajaran dengan perasaan malas. Bila boleh, ia tak ingin dulu jam pelajaran berakhir. Bila boleh, ia tak ingin pulang ke rumah. Rumah, bagi Tira kini hanya sebuah tempat yang selalu memaksa air matanya mengalir. Rumah, kini telah menjadikannya sosok yang cengeng. Rumah, kini berubah menjadi hal yang akan merenggut kebahagiaannya. Bahkan lebih cepat dari yang bisa ia perkirakan.
“Ibu akan pastikan bahwa tidak ada yang berubah meski orangtuamu bercerai. Kamu percaya pada Ibu kan?”. Perkataan Ibu saat mengantar sekolah tadi pagi kembali terngiang-ngiang di telinga Tira. Entah mengapa, janji sang Ibu tak lantas membuat Tira menerima begitu saja perceraian orangtuanya. Mungkin memang bisa saja tak ada yang berubah, tapi tetap saja dirinya menjadi tak utuh. Seharusnya Ibu dan Ayahnya tahu, kebahagiaan terbesar bagi seorang anak adalah keutuhan keluarga dan keharmonisan orangtua. Tira mendesah, dialihkannya pandangannya ke luar. Rintik hujan kembali menemaninya. Sehari ini hujan memang tak berhenti-henti membasahi semesta seolah ia tahu bahwa Tira tengah bersedih dan ingin turut menemaninya menangis. Jahat sekali, pikir Tira. Tak berapa lama, Tira pun bangkit. Ia berjalan gontai menyusuri koridor sekolah yang memang sudah lengang. Jauh di depan, ia melihat sesosok laki-laki tengah berjalan ke arahnya. Tira menghentikan langkahnya, memperhatikan sosok yang mendekat itu.
“Ibumu memintaku untuk menjemputmu..!” ujar sosok itu setelah berada di depan Tira.
Tira merasa tak perlu menjawab perkataan Hardi, pamannya yang saat ini masih duduk di bangku kuliah semester lima. Tira hanya menatap sekilas kemudian melenggang pergi. Om Hardi mengikuti dari arah belakang. Hujan semakin deras ketika Tira berdiri di pos satpam tak jauh dari gerbang sekolah. Ia mau tak mau harus menunggu hujan reda daripada pulang dengan basah kuyup.
“Sampai kapan kamu terus bertingkah seperti anak kecil?”Hardi membuka pembicaraan karena sedari tadi Tira tak membuka mulut sepatah katapun.
Tira menatap pamannya tajam. “Sikap sedewasa apa yang kalian harapkan dari anak perempuan berusia 15 tahun?” Tira balik bertanya.
Hardi tersenyum hambar mendengar perkataan keponakannya. “Kamu gak bisa menyalahkan kedua orangtua kamu, Ra..! satu hal yang harus kamu tahu, kebahagiaan tidak berasal dari bagaimana kondisi di sekitar kita, tapi bagaimana kita selalu berpikir positif setidak menyenangkan apapun keadaan di sekeliling kita..”
Hening.
Hardi tak lepas memandang keponakannya, “kebersamaan itu memang indah, tapi adakalanya perpisahan akan lebih baik daripada bersama dan saling menyakiti. Suatu hari, bila kamu dewasa, kamu akan mengerti mengapa kedua orang tuamu memilih berpisah.”
Tira mendongak seolah meminta sebuah keyakinan pada pamannya. “Aku sayang Ibu dan Ayah..”ucap Tira nyaris tak terdengar.
Hardi melangkah lebih dekat pada Tira, lalu mengelus lembut kepalanya. “Mereka jauh menyayangi kamu, Ra! Kamu percaya, Om kan?”
Tira mengangguk pelan. Air mata kembali merembes membasahi pipinya. Matanya tak lepas memandang deras air yang mengalir di selokan yang berada tepat di depan pos satpam. Tira tetap tak mengerti mengapa kedua orangtuanya memilih bercerai.
“Om..?”lirih Tira parau
“Mmm..”
“Bukankah air di bumi ini ada pada jumlah yang tetap?”
Hardi berpikir sejenak, “Iya,” jawabnya singkat.
“Kalau begitu aku ingin menjadi air saja..” balas Tira sambil terus memperhatikan tetes-tetes hujan yang jatuh ke selokan.
“Maksud kamu?”
“Air, selalu utuh. Dia mungkin tak pernah kehilangan, selalu dalam jumlah yang tetap. Air meski berubah ke dalam bentuk apapun, tapi selalu bersama, dia tak pernah merasa kehilangan. Aku harap keluargaku seperti itu..”
“Tapi air tak punya perasaan memiliki, Ra..”
Tira mendesah, “mungkin, tapi bersama tanpa rasa cinta masih lebih baik daripada terbunuh sepi sendiri. Aku gak pernah mau sendiri, Om! Hal yang paling aku takutkan adalah merasa kehilangan. Aku ingin jadi air, karena air tak pernah merasa kehilangan.” Tanpa menunggu respon Hardi, Tira berjalan menembus deras hujan sore itu, ia berharap hujan mampu menyublimasi dirinya menjadi tetes-tetes hujan. Meski jatuh dan terseok-seok, air tak pernah merasa kehilangan. Itulah yang diinginkan Tira, ia tak mau kehilangan apa yang telah dimilikinya. Keutuhan keluarga.
Perempuan yang Menanti
Setiap pagi, setiap hari, aku selalu duduk di teras rumah, menunggumu. Pagi itu, pukul 05.00, seperti biasa aku selalu dibangunkan oleh Ibu. Beliau mengajakku untuk shalat shubuh bersama, setelah itu Ibu akan segera membereskan rumah, sedangkan aku kembali ke kamar, merapikan diri sebelum bersiap untuk menunggu waktu kehadiranmu. Ku buka lemari baju, ku ambil gaun putih yang dua bulan lalu kita beli bersama. Hati-hati ku kenakan gaun tersebut dan oh, gaun ini semakin longgar di tubuhku. Sepertinya aku telah cukup lama menunggumu sampai kehilangan banyak bobot tubuh. Semoga kau tak jadi kecewa karena aku semakin kurus.
Tepat 07.30, aku keluar kamar mengenakan gaun putih lengkap dengan bunga di tanganku. Aku sedikit kecewa karena ibu mengganti bunga mawar putihku dengan bunga lili plastik yang dibelinya di supermarket beberapa hari yang lalu. Sayang, aku pun tak pandai menyanggul, sehingga rambut panjangku harus ku biarkan terurai begitu saja. Ku lihat Ibu sedang sibuk mempersiapkan sarapan di dapur. Suasana rumahku sepi, aku adalah anak tunggal dari seorang single parent. Ayahku telah meninggal saat aku masih duduk di kelas dua SD. Mantap aku melangkah ke luar rumah. Ku pegang handle pintu kemudian menariknya dan byar, mentari pagi langsung menyambutku dengan sinarnya yang hangat. “Selamat pagi dunia..” ucapku pelan, lebih pada diriku sendiri. Perlahan aku pun duduk di salah satu kursi yang terbuat dari anyaman bambu di teras rumahku.
Aku siap menunggumu hari ini, sesiap hari-hari kemarin yang sudah ku lewati. Aku selalu menunggu di sini, setiap hari, dengan pakaian yang sama, di waktu yang sama, di kursi yang sama. Seperti hari itu. Dua minggu yang lalu. Berkali-kali ku lirik jam yang melingkar di tangan kiriku, ku cek kembali handphone yang sedari tadi erat ku genggam, aku nyaris pingsan saking gelisahnya. Sudah satu jam terlambat, aku sudah tak sabar untuk menunggumu. Aku berjalan mondar-mandir sambil sesekali melirik ke arah jalan, tapi belum ada tanda-tanda kamu dan rombonganmu tiba. Ibu menghampiriku, memelukku yang luar biasa gelisah. “Dia pasti datang, sayang! Dia pasti terjebak kemacetan..!” ucapnya tepat ditelingaku. Aku mengangguk, meyakini bahwa perkataan ibu adalah benar. Bahwa kau hanya terjebak kemacetan, bahwa dalam beberapa menit lagi kau pasti datang. Ku tekan sebuah nomor di ponselku untuk memastikan keberadaanmu dan shit, aku tersambung ke mailbox. Aku semakin gelisah, tanganku mulai gemetar tanpa sebab. Aku menatap ibu seolah meminta ketenangan. Ibu lagi-lagi menggenggam tanganku, “pasti seharian kemarin dia mempersiapkan segala yang terbaik untukmu sampai dia lupa untuk mengcharge hpnya..” tutur ibuku lagi sambil tersenyum.
Ibu kemudian menuntunku masuk ke dalam rumah, di ruang tamu seluruh anggota keluargaku telah menunggu. Sama sepertiku, merekapun tampak gelisah menunggumu. Berbagai pernak-pernik yang bertebaran di ruangan itu semakin membuatku tak karuan. Tiba-tiba seorang lelaki menyeruak masuk ke rumahku dengan terengah-engah dan tanpa tedeng aling-aling ia langsung berteriak tepat di depanku, tepat di sekeliling anggota keluargaku. “Bisma kecelakaan, mobilnya jatuh ke jurang..!” Seketika aku merasa sekelilingku tampak memudar, perlahan hitam mulai memenuhi penglihatanku, lalu menjadi gelap dan aku pun tak sadarkan diri.
Ah, aku tahu itu semua kebohongan. Aku tak pernah melihat jasadmu yang terbujur kaku. Aku percaya, hari itu kau hanya kecelakaan biasa, kau hanya perlu beristirahat sebentar. Tapi ini sudah dua minggu, separah apakah lukamu sampai di waktu yang selama ini kau belum juga sembuh dan datang menemuiku?? Tapi aku tak akan lagi gelisah, aku tak akan membiarkan seseorang mempermainkan aku dengan lelucon kematianmu lagi. Aku akan duduk manis dan terus menunggumu, karena aku yakin sebentar lagi kau pasti muncul dari balik pagar rumahku. Aku melirik jam tangan yang sama dengan yang ku kenakan saat berita bohong itu sampai ke telingaku. Sudah satu jam aku menunggumu, tapi sepertinya kau belum bisa datang. Kecelakaan itu ternyata membuatmu harus beristirahat lebih banyak dari yang ku perkirakan. Sebuah tangan kemudian menyentuh pundakku. Aku mendongak, tampak Ibu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Asha, sudah nak! Kita masuk ya, udara masih cukup dingin! Gak baik buat kamu, yuk..” ajak Ibu.
“Asha gak apa-apa kok, Asha masih mau nunggu Bisma..!” jawabku tanpa memandang Ibu.
“Asha..!” lirih Ibu seraya merangkulku erat. Airmatanya merembes, aku bingung mengapa Ibu tiba-tiba menangis dan aku tak tahu harus berbuat apa.
“Ibu..Ibu kenapa?” tanyaku mencoba melepaskan diri dari rangkulannya.
Ibu mengusap airmatanya, “Kita masuk yuk, kamu belum sarapan!” lanjut Ibu sambil menarik tanganku sedikit memaksa. Aku menahan diri.
“Tapi..”
“Selesai makan, kamu istirahat! Nanti kalau Bisma udah datang, Ibu kasih tahu kamu, ya?” bujuk Ibu lagi.
Aku menatap Ibu dengan mata berbinar. “Bener, Bu? Yaudah kalau gitu, Asha makan, udah gitu istirahat. Sebenernya Asha juga cape, Bu, tapi Asha gak mau kalo nanti Bisma dateng Asha malah gak ada. Makanya Asha bela-belain nunggu, hemm..” kataku sambil masih dituntun Ibu. Tapi kemudian Ibu menghentikan langkahnya. Berbalik menatapku lekat.
“Asha, sampai kapan kamu bohongi diri kamu sendiri..!” ucap Ibu pelan nyaris tak terdengar. Mendengar itu, aku tak terima. Emosiku tiba-tiba saja meninggi.
“Ibu, kenapa sih?! Ada yang salah? Ibu sendiri yang bilang bahwa Bisma akan datang dan Asha percaya bahwa Bisma pasti datang. Ibu jangan ikut-ikutan mengarang cerita bahwa Bisma udah mati..!” teriakku.
“Asha, tapi kenyataannya Bisma gak akan pernah datang sayang! Ibu mohon, terima nak, ikhlaskan..!” Ibu memelukku erat. Entah mengapa pelukan Ibu terasa seolah cengkeraman yang menyakitkan. Aku mencoba melepaskan diri.
“Bisma belum mati. Selama Asha gak lihat jasadnya berarti Bisma masih hidup. Dia selalu ada buat Asha. Dia pasti datang, dia pasti datang..! Semuanya bohong, Ibu bohong, mereka bohong! Bisma gak akan meninggalkan Asha sendiri, dia pasti datang, pasti!” teriakku makin menjadi sambil terus berusaha melepaskan diri. Tetapi aku masih terlalu lemah untuk melawan kekuatan tangan Ibu. Lelah, akhirnya aku menyerah dan bersimpuh di lantai. Ibu masih memelukku erat dengan tangisnya yang membuncah.
“Dia pasti datang..!” lirihku dengan suara yang hampir habis.
“Iya, iya Bisma pasti datang! Sekarang Ibu antar kamu ke kamar ya..!” kembali Ibu membujuk dengan suara sesenggukkan.
Aku mengangguk.
Akhirnya Ibu membopongku ke kamar. Ibu menidurkan aku di tempat tidur yang juga masih sama seperti dua minggu yang lalu. Sebelum pergi Ibu mengecup keningku lama lalu bergegas meninggalkan kamar. Tubuhku masih letih. Kondisiku memang tak sebaik biasanya. Dua minggu terakhir kesehatanku menurun drastis dan yang paling aku takutkan adalah Bisma. Dia adalah orang yang paling mencemaskan aku bila kesehatanku terganggu. Dia adalah yang paling cerewet masalah makan dan tidurku. Bisma. Sudah dua minggu kau pun tak menghubungiku. Pokoknya, bila kau datang nanti, akan ku marahi, pikirku.
Pelan-pelan, aku mencoba bangkit dari tempat tidurku. Ku pandang wajahku lekat-lekat di cermin. Gaun ini, sekalipun belum pernah kau melihatnya. Kau pernah bilang bahwa aku pasti akan sangat terlihat cantik mengenakan gaun ini dan aku sangat ingin kau melihatnya. Tapi mungkin tidak hari ini. Besok kau pasti datang bukan? Atau mungkin lusa? Kapanpun, aku yakin kau pasti datang. Perlahan ku lepas gaun berwarna putih itu dan berganti pakaian tidur. Ku gantung kembali di lemari untuk ku kenakan lagi besok. Ku rebahkan kembali tubuh ringkihku di ranjang, lalu ku pejamkan mata. “Telah lama aku menunggu. Biarkan mataku terpejam agar aku bisa melihatmu. Maafkan aku, Allah..” gumamku dalam hati. Perlahan sepertinya lelahku melebur, tubuhku serasa ringan terangkat. Aku melayang. Bila kau tak pernah datang, maka biarkan aku yang menemuimu.
Langganan:
Postingan (Atom)
